Home » , » Kabar Baik Untuk Ayah & Ibu

Kabar Baik Untuk Ayah & Ibu

Written By admin on Sunday, January 27, 2013 | 1:06 PM








Namanya Ahmad, seorang santri yang akan menamatkan studynya di Ma’had (Pesantren) Bustanul Ulum, Santri yang masih merasa belum berhasil mengirim surat keterangan beasiswa sebagai juara kelas di Ma’hadnya, maklumlah selama sekolah SD dan MTs dulu dia termasuk siswa yang berprestasi di kelasnya, namun ketika masuk ke Ma’had Bustanul Ulum (MBU) dia hanya mampu bertahan di kelas B saja, sebuah urutan kelas yang sama dengan kelas unggulan jika di sekolah umum.

Menjadi Santri di MBU sebenarnya ia lalui dengan setengah hati, karena ia merasa jauh dari keluarga, hal ini disebabkan keluarganya hanya terdiri dari empat orang, Pak Adi seorang Pegawai TU di sebuah sekolah, dan Bu Sholihah adalah seorang guru agama SD dan Khairatun adik Ahmad yang masih duduk di MTs, keluarga kecil inilah yang selalu mengganggu rasa betahnya tinggal di MBU, maklumlah keluarga kecil ini tidak pernah berpisah jauh, namun disisi lain keluarga ini pula yang menjadi penyemangatnya untuk belajar di MBU. Kecelakaan di Bus yang dikendarai kedua orang tua Ahmad saat pergi mencari informasi tentang MBU ke kota juga selalu terngiang dibenaknya, ditambah lagi pesan sang ibunda tercinta saat membujuk Ahmad untuk masuk ke MBU, “Ibu cuma pingin abang nanti tahu agama dan menjadi imam diwaktu menyolatkan ayah dan ibu nanti”, pesan itu layaknya petir yang menyambar disaat bumi sedang gelap tertutup awan pertanda akan turun hujan, itulah suasana yang dirasakan Ahmad kala itu.


Suasana di MBU memang berbeda dengan sekolah umum lainnya, selain seluruh siswanya diasramakan, pergaulan siswanya juga semakin luas karena siswa MBU datang dari berbagai daerah yang berbeda, bahkan lebih jauh dari rumah Ahmad, Ahmad lebih kagum lagi karena teman satu kamarnya ternyata berasal dari negeri seberang Malaysia, Namanya Jauzi, badannya besar suaranya juga ngebass seperti orang tua, gaya bicaranya Ahmad anggap lucu namun enak didengar karena berlogat melayu Malaysia, “Ape nde?”, “buruk sangat lah kau ni” ungkapan yang selalu keluar dari mulut Jauzi, Ahmad dan teman-temannya kagum pada Jauzi, karena menurut pengakuannya Ayah Jauzi berkantor di Menara Kembar Petronas Malaysia, salah satu gedung tertinggi di dunia. Pane teman pertama Ahmad di MBU berkata, “ apa benar bapaknya kerja di gedung itu, berarti anak orang kaya dong?”, Diki menjawab, “nampaknya iya, dia memang orang kaya, pakaiannya coba kalian lihat, nampak mahal tuh”, “bener” tambah Ahmad, “lihat kasurnya !, bantalnya aja dua, belum gulingnya lagi, tapi yang beruntung juga aku, kalau dia sudah tidur, bantalnya sering aku pakai, soalnya lasak kali tidurnya dia”, tegas Ahmad kembali. Pane, Diki dan Ahmad tertawa bersama.

Lemari Ahmad kebetulan bersebelahan langsung dengan lemari Jauzi, seluruh siswa di MBU tidur tanpa menggunakan rosbang tidur, mereka tidur di atas lantai langsung dengan dialaskan kasur dan tikar yang mereka beli di koperasi MBU.

Akan tetapi, Ahmad sejak kelas satu tidak menggunakan tilam melainkan selimut bekas yang ia lipat menjadi dua, tikar kecil, dan tanpa bantal. Sementara itu, Jauzi yang tepat tidur di sampingnya selalu tidur di atas kasur empuk dengan lasak sampai-sampai bantal-bantalnya berterbangan kemana-kemana. Situasi inilah yang selalu dimanfaatkan teman-teman Jauzi termasuk Ahmad, “lumayan dapat bantal gratis” ujar Ahmad dan Diki yang tidur bersebelahan.

Selain Jauzi, Ahmad juga punya teman lain yang lucu, anaknya ada sedikit kekurangan, teman-teman Ahmad sering menyebutnya dengan idiot, namanya Untung, Badannya sangat besar dan tinggi, gemuk lagi. Yang lebih lucu lagi walaupun ada kumisnya sedikit, Untung sering bermain-main dengan anak kelas satu MBU yang masih kecil, kadang-kadang dia bermain kejar-kejaran ditengah lapangan di depan asrama kami, jelas saja semua siswa yang lain tertawa melihat aksi kocak Untung, padahal langkah kakinya saat berjalan seperti lindu, bahasa jawa yang sering Ahmad gunakan di kampung dulu jika ada gempa.

Untung sering dikunjungi orang tuanya, bahkan bisa dibilang setiap hari, Ayah Untung mirip persis dengan Untung, hanya saja badan ayahnya lebih besar dan kumisnya lebih tebal. Ahmad dan teman-temannya satu asrama sudah kenal betul dengan Ayah Untung, karena beliau selalu masuk asrama Ahmad untuk mengantar pakaian bersih dan mengambil pakaian Untung yang sudah kotor.

Suatu ketika ada cerita lucu terjadi di asrama Ahmad, Untung yang saat itu tinggal di kamar 3 sedang mudhif (kedatangan tamu), Ayahnya datang dan seperti biasa mengantarkan pakaian Untung. Saat itu Untung sedang tidak ada di kamar, sang Ayah pun langsung memasukkan pakaian Untung ke lemari yang bentuknya sudah ditentukan Ma’had, tingginya sekitar 1,5 m dan lebar sekitar 70 cm, ketika Ayah Untung sedang merapikan pakaian di bagian rak yang paling bawah, Ayah Untung duduk di lantai, tiba-tiba saja ada yang memukul Ayah Untung dari belakang sambil berteriak, “Untuuuuuuuung.......”, “praaaak” suara pukulan tangan di kepala Ayah Untung, ternyata itu Yahya, teman satu kelas Ahmad yang terkenal dengan suara merdunya ketika membaca Al-Qur’an, Yahya kira yang sedang membereskan lemari adalah Untung, maklumlah tidak kelihatan wajah Ayah Untung, yang kelihatan hanya badannya dari belakang, teman-teman Yahya satu kamar kaget atas apa yang dilakukannya, “woi, Yahya, zalik laisa Untung, zalik Abuhuuuu...(itu bukan Untung, itu Ayahnya)” Ujar Hidayat yang berbisik ke arah Yahya. Kontan saja Yahya kaget, Wajahnya memerah dan langsung lari keluar kamar, Hidayat dan teman-teman lainnya tertawa tanpa suara sambil melanjutkan pekerjaan masing-masing seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ayah Untung diam saja tidak marah memaklumi apa yang dilakukan Yahya.

Ternyata kejadian lucu di asrama Ahmad belum berakhir, nasib sial Ayah Untung masih berlanjut, setelah kepalanya dipukul Yahya, tiba-tiba ada yang menendangnya dari belakang. Pelakunya adalah Zulkarnaen, teman sekamar Untung yang duduk di kelas 3 Intensif, sebenarnya ia sama dengan Ahmad dan yang lain, masih baru masuk dan duduk di kelas 1 Intensif, namun dia ikut ujian kelas lanjutan karena dia memang tamatan Ma’had. Saat itu, beberapa menit setelah Yahya lari dari kamar, tiba-tiba saja Zulkarnaen masuk ke kamar 3, ia menyangka Untung sedang membersihkan lemari, saat itu dilihatnya kepala Untung masuk ke dalam lemari, sehingga bagian belakangnya terangkat, spontan saja Zulkarnaen mendatanginya dan mendorong bagian belakang Ayah Untung dengan kakinya sambil berteriak “Untuuuuuung...” jelas saja Ayah Untung terperosok ke dalam lemari, teman-teman satu kamar makin kaget, “woi, Zuuul, zalik laisa Untung, zalik Abuhuuuu...waduuuuh” ujar Hidayat sambil memegang kepalanya. Zulkarnaen pun kaget dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Yahya sebelumnya yaitu lari keluar kamar. Ahmad dan yang lain tertawa terbahak-bahak di kamar sebelah melihat kejadian ini, namun disisi lain Ahmad menjadi teringat akan orang tuanya, “oh ternyata begini perjuangan orang tua terhadap anaknya, walaupun kekurangan anak begitu banyak, orang tua tetap sayang kepadanya” ungkap Ahmad dalam hati.


****


Melihat begitu banyak pengalaman yang Ahmad rasakan selama di MBU, membuatnya semakin mantap untuk melanjutkan perjuangan di Penjara Suci ini, Penjara Suci sering digunakan Ahmad dan teman-temannya untuk menggambarkan MBU yang ketat penuh disiplin. Rasa mantapnya itu berubah menjadi penasaran ketika melihat teman sekelasnya Satria dipanggil ke tengah lapangan di depan panggung kehormatan ketika acara Apel Tahunan yang dihadiri oleh para petinggi Ma’had dan tamu undangan yang merupakan pejabat daerah, serta seluruh siswa-siswi yang memadati lapangan Ma’had. Satria dipanggil tidak sendiri namun juga beberapa siswa-siswi lain yang berprestasi untuk mendapatkan beasiswa sebagai juara kelas saat itu. “wah Ayah Ibu pasti bangga, kalau aku dapat juara kelas, surat beasiswa akan kukirim ke rumah, biar jadi kejutan, aku harus belajar sungguh-sungguh ni” Ujar Ahmad dalam hati sambil melihat Bapak Pimpinan Badan Wakaf dan Bapak Pimpinan MBU menyerahkan sepucuk surat keterangan pemberian beasiswa kepada masing-masing juara kelas.

Pelajaran di MBU jelas berbeda dengan sekolah umum yang lain, dari materinya saja bisa dibilang dua kali lipat jumlahnya dari materi di sekolah MTs Ahmad yang dulu. Atas kesadaran itulah Ahmad dan teman-teman yang lain harus lebih ekstra lagi belajar. Suasana belajar di MBU juga berbeda, di MBU siswa-siswinya lebih semangat belajar, apalagi teman-teman sekelas Ahmad hampir semuanya rajin belajar, terkesan tercipta suasana kompetitif antar individu, bahkan sampai-sampai Ahmad dan teman-temannya selalu menjadwal sahirullail atau bangun malam untuk belajar bersama di depan Rayon dengan tidak lupa shalat tahajjud terlebih dahulu. Impian Ahmad untuk selalu bermain bola juga harus dia kubur dalam-dalam, maklumlah pertama kali datang ke MBU lapangan bolalah yang dituju oleh Ahmad, karena dia Raja Bola di kampung dulu.

Kesadaran akan banyaknya materi yang tertinggal dan rasa penasarannya untuk menjadi juara kelas membuat Ahmad benar-benar mengatur waktunya untuk belajar, disaat siswa lain berolah raga, Ahmad dan beberapa temannya langsung bergegas mandi dan langsung menuju kelas untuk belajar, suasana belajar sore adalah waktu favorit mereka untuk belajar. Disamping itu ini adalah siasat Ahmad untuk menghindari antrian panjang yang menumpuk di kamar mandi, bayangkan saja ada hampir tujuh ratusan siswa yang mandi di waktu yang sama menumpuk di satu pipa besar tempat air keluar dari tandon air.

Salah satu teman yang sering menemani Ahmad belajar adalah Yahya, mereka sering berbagi kisah keluarga mereka. Yahya adalah seorang siswa asal Labuhan Batu yang berpenampilan sederhana dan humoris. “ente (kamu) kalau liburan kemana ja Yahya?” tanya Ahmad. “yah, kalau liburan ana (saya) gak liburan Mad, ana biasanya bantu orang tua ke ladang, dari pagi sampe sore, kalau ente?” tanya Ahmad balik, “gitu ya..kalau ana di rumah aja, kami memang gak punya ladang, paling bantu-bantu bersihkan rumah, tapi kalau ana di rumah biasa ana disuruh ceramah tu ma Ayah, ntah itu diacara wirid remaja, acara keluarga, apalagi kalau udah bulan Ramadhan, ceramah selesai shalat tarawih. Oh ya, kebetulan juga di kampung kami ada MDA, jadi kadang ana membantu Ibu mengajar di MDA, soalnya ana juga tamatan MDA itu dulu” Jawab Ahmad panjang.

Perjuangan Ahmad untuk meraih kasta tertinggi di kelasnya tak kunjung datang juga, impiannya untuk dipanggil ke panggung kehormatan untuk memperoleh beasiswa selalu gagal, malah untuk menembus lima besar juga sulit, prestasi terbaiknya adalah ketika ia duduk di kelas 3 Intensif, dimana Ahmad meraih posisi kelima saat itu. Sadar akan ketidakmampuannya untuk bersaing dengan teman-teman yang lain yang kebetulah lebih menguasai bahasa arab, Ahmad mencoba mencari cara lain agar ia bisa memberi kabar gembira buat orang tuanya. Pelajaran di Ma’had memang mayoritas berbahasa arab, sementara bahasa inggris hanya 30%, padahal Ahmad terkenal dengan Master Of English, kebetulan dia dulu sempat les bahasa inggris waktu di kampung. Kelebihan Ahmad di bidang bahasa inggris ia manfaatkan untuk menjadi kabar gembira buat orang tuanya, dengan cara mengikuti berbagai perlombaan yang bersifat bahasa inggris. Berbagai prestasi ia peroleh salah satu yang paling berkesan adalah saat lomba Broadcasting Competition, saat itu kebetulan hari jum’at bertepatan dengan kedatangan orang tua Ahmad.

Ya saat itu Ahmad sedang mudhif, dan kebetulan sang Ayah ikut duduk di belakang, tepat dihadapan beliau seluruh santri MBU duduk menyaksikan lomba. Tampak mata Ayah Ahmad berkaca-kaca menyaksikan penampilan Ahmad membacakan berita, saat itu Ahmad memakai jas dan dasi yang kebesaran, maklumlah dapat pinjaman jas dari kelas VI (3 Aliyah). Setelah penampilan Ahmad selesai, jam sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB, sudah saatnya Ayah Ibu pulang, karena kalau tidak nanti bisa ketinggalan Bus di terminal Pinang Baris. Bus yang biasa dikendarai Ayah Ibu pulang terakhir berangkat pukul 17.00 WIB, “Ayah Ibu pulang saja, sekarang sudah jam setengah empat sore, ntar ketinggalan bus” ujar Ahmad. “Masih lama ya pengumumannya?, Ayah pingin liat”. Tambah Ayah Ahmad, tampak sekali beliau ingin melihat pengumuman apakah anaknya juara atau tidak. “sudah lah yah, nanti biar abang saja yang mengabari, nanti kita kesorean, ketinggalan bus kan susah, apalagi kalau sudah sore bus penuh, bisa-bisa kita tidak dapat tempat duduk nanti” saran Ibu. Akhirnya Ayah dan Ibu Ahmad pun pulang. Ketika pengumuman disampaikan Ahmad berhasil meraih juara III, padahal dalam kompetisi itu dialah satu-satunya anak baru yang ikut tampil. Dan Ayah Ibu Ahmad sangat senang mendengar kabar itu.


****


Melihat betapa senangnya Ayah Ibu mendengar prestasi-prestasi Ahmad di luar kelas akhirnya meneguhkan hati Ahmad untuk terus mencari prestasi-prestasi lainnya tanpa mengenyampingkan pelajaran di kelas walau sudah pesimis untuk menjadi juara kelas. Saat itu Ahmad duduk di kelas 3 Intensif, kegiatan Jurnalistik adalah kegiatan yang wajib diikuti oleh santri kelas 3 Intensif dan 4 (1 Aliyah), Ahmad tertarik mengikuti kegiatan ini karena ia suka membaca tulisan-tulisan yang disajikan abangan kelas di Al-Ulum Pos, sebuah majalah santri yang terbit tiap minggunya.

Dalam pelatihan yang diarsiteki bagian Litbang Ma’had, akan dipilih 20 besar santri kelas 3 Intensif dan 4 yang terbaik dalam hal tulis menulis. Sebelumnya para peserta jurnalistik memperoleh pelatihan selama hampir seminggu, diisi oleh para jurnalis dari harian lokal ternama. Keseriusan Ahmad terlihat dari goresan penanya yang tidak pernah berhenti mencatat segala kejadian yang ada selama pelatihan hingga akhirnya Bagian Penerangan OPBU (Organisasi Pelajar Bustanul Ulum) mengumumkan 20 besar terbaik dan salah satunya adalah Ahmad.

Ternyata keinginan Ahmad untuk menjadi Jurnalis tetap di Al-Ulum Pos harus ditahan terlebih dahulu, tidak seperti yang ia perkirakan, karena dari 20 besar terbaik itu akan diciutkan menjadi 10 besar terbaik. Dan akan dilakukan seleksi kembali. Ahmad dan yang lain mendapat kesempatan untuk mengikuti study tour ke studio TVRI Medan untuk belajar langsung tentang jurnalistik. “Akhi (panggilan saudara laki-laki) penilaiannya nanti gimana untuk mencapai 10 besar nanti?” tanya Ahmad ke pengurus Al-Ulum Pos Akhi Andika, “oh penilaiannya nanti kalian disuruh membuat berita tentang kegiatan ini, 10 tulisan terbaik akan terpilih menjadi anggota tetap Al-Ulum Pos menggantikan kami” jelas Akhi Andika, “kalian harus berjuang karena di Al-Ulum Pos nanti kalian akan mendapatkan pengalaman yang luar biasa, ditambah lagi kalian mendapat fasilitas komputer, jadi kalian bisa belajar komputer lebih dulu ketimbang teman-teman kalian yang lain” tambahnya menyemangati kami.

“Gimana Satria persiapan ente? Ana yakin ente bakalan salah satu yang lulus, karena ente kan juara kelas, pasti tulisan ente juga bagus” tanya Ahmad ke Satria, “ah biasa aja Mad, kita harus ikut seleksi dulu, kita harus banyak doa, semoga kita bisa lulus” jawab Satria. “gimana persiapan ente Mad?” balik tanya Satria, “ana betul-betul serius ni Satria, ana tertarik betul untuk jadi anggota Al-Ulum Pos, ana pingin bisa nulis dan pandai mengetik di Komputer” jawab Ahmad, “Tenang aja Mad, ana yakin ente lulus dan bisa ngetik di komputer, apalagi ente kan juara ngetik di Marhalah (Angkatan) kita, nilai ente kan tertinggi dulu di kursus mengetik, tercepat sepuluh jari lagi” puja Satria, “amiiin” jawab Ahmad sumringah. Ahmad menjadi semakin optimis mendengar ucapan temannya Satria, apalagi dikaitkan dengan sebutan Juara Mengetik, karena memang Ahmad mendapat nilai tertinggi dalam ujian mengetik ketika kursus mengetik dengan menggunakan mesin ketik, hingga saat itu Ahmad selalu ditunjuk untuk menjadi sekretaris di setiap kegiatan kelas.

Segala kegiatan di Studio TVRI Medan Ahmad ikuti dengan seksama, buku tulisnya penuh dengan coretan data yang ia kumpulkan, bahkan Ahmad juga termasuk aktif dalam berdialog dengan crew TVRI, hingga akhirnya seluruh peserta diharapkan untuk menulis naskah berita kegiatan selama di TVRI. Tak lupa pula ikhtiar Ahmad diiringi dengan doa yang selalu ia panjatkan disetiap sholatnya. Hari berganti hari pasca kegiatan di Studio TVRI berlalu, Ahmad terus menunggu kapan pengumuman 10 terbaik kegiatan Jurnalistik diumumkan. Hingga akhirnya panitia mengumumkan 10 terbaik melalui bagian penerangan yang dibacakan setelah shalat Maghrib. “yurjal ijtima’ jamii’u asma’ al mazkurah ila mabna Misro ba’da shalatil maghrib mubaasyarotan ulaika hum (diharap berkumpul seluruh nama tersebut ke gedung Mesir setelah shalat Maghrib tepat, mereka adalah) Satria, Akmal, Toni, Joko, Mustaqim, Dodi, Indra, Eko, Jeki, wa akhuna (dan saudara kita) Andre”. Jantung Ahmad berdetak kencang, ia bertanya dalam hati “kumpul apa ini ya? Apa ini sepuluh terbaiknya? Itu khan nama teman-temanku yang ikut latihan jurnalistik di TVRI kemarin, apa mereka yang terpilih? Kok pengumumannya gak jelas gini”, hati Ahmad terasa kesal, ia bingung bertanya kemana, karena selesai Maghrib ia masih harus membaca Al-Qur’an lagi di Mesjid, sementara keinginan bertanya ke nama-nama tersebut baru bisa terwujud setelah mereka selesai kumpul, paling tidak selepas sholat isya, waktu yang terasa sangat lama buat Ahmad.


****


Selesai shalat Isya Ahmad langsung bergegas menemui temannya Satria, “Satria, tadi ente kumpul ya? Kumpul apa itu?”, Tanya Ahmad dengan penuh penasaran, “oh tadi kumpul 10 terbaik jurnalisnya Mad” jawab Satria, “oh gitu ya?” jawab Ahmad dengan wajah penuh kecewa. “iya Mad, yang sabar ya, mungkin kesempatan ente bukan sekarang, ente harus tetap semangat dalam menulis ya, ana tau betul kemampuan ente dalam menulis itu bagus” jelas Satria. “iya Satria” jawab Ahmad lesu. “kapan lagi kesempatanku, mana ada lagi seleksi untuk kelas 3 Intensif, yang sudah terpilih akan jadi anggota tetap, gak kan ada tambahan di tengah jalan, seleksi berikutnya untuk adikan kelas 1 Intensif dan kelas 3 yang akan naik kelas 3 Intensif dan kelas 4 tahun depan, gagal lah aku buat kabar baik lagi untuk orang tua ku” tambah Ahmad dalam hati.

Kesedihan hati Ahmad atas kekecewaannya dibidang Jurnalistik makin bertambah saat melihat teman-temannya yang terpilih mengikuti kegiatan kunjungan ke Harian Waspada Medan, sebuah koran yang selalu dilumat informasinya setiap hari oleh Ahmad, selain itu, kesedihannya tidak pernah hilang karena selalu melihat Al-Ulum Pos yang menempel di dinding gang Ishlah letak papan display majalah dinding santri itu ditempel, terlihat beberapa tulisan teman-temannya tertempel disana, termasuk tulisan temannya Satria yang ternyata terpilih menjadi Pimpinan Redaksi Al-Ulum Pos.

Terpilihnya Satria menjadi Pimpinan Redaksi Al-Ulum Pos membuka kesempatan Ahmad untuk ikut membantu walau dibalik layar dan nama Ahmad tidak pernah tertera di struktur pengurus Al-Ulum Pos. Satria dan Ahmad sering berdiskusi tentang tulisan-tulisan yang akan diterbitkan, sampai suatu saat ketika Ahmad dan Satria duduk di kelas lima, Satria terpilih menjadi ketua Khutbatul Arsy (Pekan Perkenalan) Ma’had, kegiatan ini berlangsung sampai seminggu lebih, bahkan ada acara Apel Tahunan yang harus diurus oleh Satria, sehingga waktunya sangat sedikit untuk mengurus Al-Ulum Pos. Oleh karena itu Satria memohon bantuan Ahmad untuk menuliskannya berita tentang Pemilihan Langsung Presiden Republik Indonesia tahun 2004. Ahmad dengan senang hati menerima tawaran Satria itu, dengan sungguh-sungguh Ahmad menulis berita tersebut, dengan cara membaca berbagai referensi tentang pemilihan presiden yang dimenangkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono saat itu.

Dengan semangat menggebu-gebu tulisan Ahmad telah selesai dan ia langsung serahkan ke Satria, Ustad Fadhlan adalah pembimbing Al-Ulum Pos yang membaca semua tulisan wartawan Al-Ulum Pos termasuk tulisan Ahmad. Tiba-tiba saja Ustad Fadhlan bertemu Ahmad di gang Ishlah, “Mad, kamu sudah di panggil bapak pimpinan belum?” tanya Ustad Fadhlan, “Belum tad, ada apa tad?” tanya Ahmad penuh keheranan, “lha kamu belum tahu ya?” tanya Ustad Fadhlan lagi,”belum tad” jawab Ahmad, “begini, kamu itu dipilih untuk mengikuti Pelatihan Jurnalistik Santri di Bogor, kamu siap ya?”, ujar Ust Fadhlan, Ahmad tak menjawab, dia terpelongo kaget seakan tak percaya, Ust Fadhlan pun senyum dan pergi meninggalkan Ahmad. Entah apa yang dirasakan Ahmad saat itu, semua rasa bercampur aduk, senang tapi takut salah, karena rasanya seperti mimpi. Takut kalau Ahmad salah dengar dari Ust Fadhlan, ia pun coba simpan dalam hati dulu, tidak ada yang tahu sampai akhirnya bertemu dengan Ust David sekretaris ma’had. “Mad, sini dulu, sudah ketemu Bapak Pimpinan belum?” tanya Ust David, “belum tad” jawab Ahmad, “ya sudah sana menghadap beliau sekarang, kamu ditunggu dirumahnya tuh” tambah Ustad David. “ya tad” jawab Ahmad. Ia pun langsung bergegas ke rumah Bapak Pimpinan Ustad Hasyim.

“Assalamu’alaikum” salam Ahmad, “Wa’alaikumsalam, siapa?”Jawab Ustad Hasyim, “saya Ustad, Ahmad” Ujar Ahmad, “oh ya” jawab Ustad Hasyim yang langsung keluar dari rumahnya. Sambil mengeluarkan secarik kertas dan pena Ustad Hasyim seolah-olah akan menulis sesuatu, “Nama kamu? Alamat kamu?” tanyanya, “Nama saya Ahmad Arif Ustad, alamat saya di Dusun V Jatimulyo, Desa Tebing Tanjung Selamat, Kecamatan Padang Tualang Kabupaten Langkat” jawab Ahmad. “wah jauh ini nampaknya..ada no HP gak? Atau siapa yang bisa dihubungi segera” tanya Ustad Hasyim lagi, “no HP gak ada Ustad tapi, tetangga saya punya” jawab Ahmad terbata-bata, “ya sudah kamu hubungi segera ya orang tua kamu untuk datang besok ke pondok, karena kamu terpilih untuk mengikuti pelatihan jurnalistik di Bogor, semua biaya ditanggung nanti, karena tiga hari lagi kamu terbang ke Jakarta, ok ya?” tegas beliau, “i...i..iya Ustad” Jawab Ahmad lagi.

Semakin jelas semua, rasanya dunia ini terang benderang, seperti terbang ke awan, senang sekali wajah Ahmad saat itu, ia langsung bergegas ke bagian keamanan untuk minta izin keluar ma’had supaya bisa menelpon kedua orang tuanya lewat wartel di depan Ma’had. Setelah mendapat izin, Ahmad langsung menelpon kedua orang tuanya, berhubung orang tuanya belum memiliki HP, Ahmad menelpon tetangga rumahnya yang merupakan sepupunya. “assalamu’alikum bang, ini Ahmad, bisa minta tolong panggilkan Ayah Ibu, penting nih, lima menit lagi Ahmad telpon ya” ujar Ahmad tergesa-gesa. Setelah lima menit, Ahmad kembali menekan nomor telpon , “Assalamu’alaikum yah, Apa kabar? Sehat?” tanya Ahmad, “wa’alaikum salam, iya sehat, ada apa bang? ” tanya Ayah, “Gini yah, Ayah dan Ibu disuruh datang ke Ma’had besok, karena abang ditunjuk ikuti pelatihan” tegas Ahmad, “apa..? abang dituduh maling?” tanya Ayah kaget, “bukan yah, abang ditunjuk untuk mengikuti pelatihan Jurnalistik di Bogor, makanya Ayah Ibu disuruh datang besok” jelas Ahmad lagi, “oh iya, kata Ibu mau dibawai apa besok?” tanya Ayah lagi, “gak usah repot yah, yang penting datang ya besok, udah ya yah, nanti biayanya mahal, salam sama Ibu dan Adik, Assalamu’alaikum” tegas Ahmad, “Wa’alaikum salam” jawab Ayah.

Setelah ia memberi tahu orang tuanya, Ahmad teringat akan temannya Satria, Ahmad merasa tidak pantas dipilih, karena Satria lah yang pantas, Akhirnya Ahmad bergegas menemui Satria dan menjelaskan rencana keberangkatannya. Kelihatan wajah Satria kecewa karena Ahmad yang terpilih berangkat, jelas saja karena Satria adalah Pimpinan Redaksi di Al-Ulum Pos. Satria langsung bergegas menemui Ust Fadhlan, kelihatannya ia protes akan kebijakan Ma’had memilih Ahmad. Namun setelah itu Satria kembali menemui Ahmad dengan tersenyum sambil mengadahkan tangannya untuk bersalaman dan berkata “jangan lupa bawa oleh-oleh ya, ini mungkin bukan rizki ana, mungkin rizki ana dilain waktu, selamat berjuang sobat”. Ahmad dan Satria berjabatan erat penuh dengan haru.

Keesokan harinya sang Ayah Ibu sudah ditunggu kedatangannya oleh Ahmad, sekitar pukul 15.00 WIB kamis, Ayah Ibu tiba melalui gerbang putra, disambut dengan anak-anak pramuka yang sedang latihan dan asap fogging dari bagian kesehatan di asrama putra, Ahmad mencium kedua tangan orang tuanya serta pipi kedua orang tuanya yang memang tradisi keluarga Ahmad. Senyum Ayah Ibu sangat berbeda saat itu, Ahmad melihat kebahagiaan yang tiada terkira. “mungkin inilah jawaban doaku selama ini, aku memang tidak bisa mengirim surat beasiswa juara kelas ke orang tuaku, namun akhirnya aku bisa memberi kabar bahagia untuk Ayah Ibu lewat cara yang lain, Semoga aku terus dapat membahagiakan kedua orang tua ku” Ujar Ahmad dalam hati sambil diiringi langkah kaki menuju rumah Bapak Pimpinan Ma’had.(Fun)

* Staf pengajar Pesantren Mawaridussalam
by: muhammad irfan
Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Mawaridussalam-id - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger